Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Visi Indonesia 2050 bersama Korporasi

Mitra: IBCSD
Layanan: Kajian, Penelitian, Publikasi

Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama dengan Penabulu Alliance mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka pengumpulan dan penyusunan data Tren Indonesia 2050. Acara yang dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober 2014 Pkl. 09.15 – 12.00 WIB ini diadakan di Grand Cemara Hotel serta dihadiri oleh perwakilan dari beberapa perusahaan, yaitu PT. Transportasi Jakarta, Monsanto, Moores Rowland/PT. AJA Sertifikasi Indonesia, Wilmar Nabati Indonesia, Indofood Sukses Makmur, Indah Kiat & Tjiwi Indonesia/APP Indonesia, Telkom Indonesia, Garuda Indonesia dan BNI46.

Diawali dengan pembukaan oleh Tiur Rumondang yang menjelaskan ide awal pembuatan Visi Indonesia 2050 sebagai perencanaan jangka panjang dalam sektor bisnis. Lebih lajut, Tiur menjelaskan mengenai kerangka kerja dari Visi Indonesia 2050 dan FGD ini bertujuan untuk menentukan Megatrends. Tiur juga mengungkapkan peran serta dari perusahaan yang hadir dalam FGD ini adalah sebagai Working Group, berbeda dengan peserta dihari-hari sebelumnya yang berperan sebagai Extended Group. “Kalau kita lihat tagline Indonesia 2050 adalah agenda bisnis, dimana agenda masing-masing perusahaan dengan visi agenda bisnis, pada akhirnya agenda ini yang melaksanakan adalah kita (perusahaan)” ungkap Tiur.

FGD kali ini berjalan secara informal agar lebih nyaman dan tidak terlalu kaku. Fokus dengan 3 hal yang ditetapkan sebagai Megatrends dalam penelitian ini, yaitu Populasi, Ekonomi dan Lingkungan Indonesia 2050. Sardi selaku peneliti senior menjelaskan data-data hasil riset tim Penabulu Alliance, diantaranya prediksi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi ditahun 2030. Bonus demografi ini bisa dimanfaatkan perusahaan sebagai sumberdaya tenaga kerja produktif, dengan begitu situasi ini dapat mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Dalam hal lingkungan, dibahas mengenai emisi dan hutan. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, perusahaan juga memperhitungkan keadaan lingkungan Indonesia dalam setiap program yang akan dijalankannya demi pembangunan yang berkelanjutan.

Menanggapi data yang telah disajikan, Sri selaku Direktur PT. Transportasi Jakarta berpendapat bahwa konsep yang digunakan tidak bisa berlandaskan “Business-as-usualtapi harus “Out of Box karena terdapat banyak tantangan-tantangan untuk menghadapi masa depan, maka diperlukan pemikiran yang diluar dari kebiasaan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Yuki dari Indah Kiat & Tjiwi Indonesia/APP Indonesia menyarankan, “Akan lebih baik kalau proyeksi dibuat dengan  model yang ada, sehingga variablenya tidak linear, angka bisa lebih valid”. Dia menambahkan bahwa akan ada hambatan-hambatan yang akan dihadapi dan membuat keadaan di masa depan berubah, maka perlu juga asumsi-asumsi hambatan menuju 2050.

Saran lain dari perwakilan perusahaan lainnya adalah penambahan sektor-sektor yang terkait dengan bidang masing-masing perusahaan, seperti bidang teknologi, “Kadang data banyak dan tidak tahu mengolahnya, diharapkan melalui teknologi, Index competiveness akan meningkat” ujar Yasser perwakilan dari Telkom Indonesia.